Satu Gaji untuk Satu Keluarga: Kenapa Kini Terasa Berat?

Penulis: Anisa Wahyuni
Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:04:00 WIB

Bunda, pernahkah kita membayangkan hidup hanya dengan mengandalkan satu sumber penghasilan? Mungkin dulu hal itu terasa wajar, tetapi sekarang banyak keluarga yang merasa makin sulit bertahan dengan satu gaji. Ekonomi yang berubah membuat banyak hal terasa lebih mahal dan kebutuhan semakin kompleks.

Biaya Hidup yang Terus Menanjak

Salah satu alasan utama mengapa satu penghasilan terasa berat adalah karena biaya kebutuhan pokok yang terus meroket. Inflasi membuat harga pangan, transportasi, dan kebutuhan harian lainnya naik signifikan. Belum lagi biaya pendidikan anak yang semakin tinggi, membuat kita harus berpikir ekstra keras dalam mengatur keuangan keluarga.

Menurut para ahli ekonomi, kenaikan biaya pengasuhan anak dan layanan kesehatan menjadi beban tambahan yang tidak bisa dihindari. Ketika semua kebutuhan ini harus ditanggung oleh satu orang, tentu saja tekanan finansialnya sangat terasa.

Harga Rumah dan Sewa yang Melambung

Bicara soal tempat tinggal, siapa yang tidak merasakan mahalnya rumah dan sewa saat ini? Keterbatasan pasokan perumahan membuat harga rumah terus meningkat, sementara biaya sewa juga ikut melambung. Bagi keluarga dengan satu pencari nafkah, cicilan rumah atau biaya sewa bisa mengambil porsi sangat besar dari pendapatan bulanan.

Akibatnya, sisa uang untuk kebutuhan lain seperti makanan, transportasi, dan tabungan menjadi semakin menipis. Dulu, mungkin ada masa di mana satu gaji cukup untuk membeli rumah dan mobil, tetapi sekarang hal itu terasa seperti mimpi di siang bolong.

Biaya Kesehatan dan Pendidikan yang Terus Naik

Kesehatan dan pendidikan adalah dua sektor yang kenaikan biayanya sering kali melebihi inflasi. Premi asuransi kesehatan untuk keluarga saja meningkat lebih dari 25 persen sejak 2020. Begitu juga dengan biaya penitipan anak dan uang kuliah yang naik sekitar 5 persen setiap tahunnya.

Jika hanya mengandalkan satu penghasilan, keluarga dengan dua atau tiga anak akan semakin tercekik. Kita tidak hanya harus memikirkan kebutuhan hari ini, tetapi juga dana pendidikan dan persiapan pensiun di masa depan.

Dunia Kerja yang Semakin Tidak Pasti

Dulu, bekerja di satu perusahaan bisa memberikan rasa aman. Sekarang, banyak pekerja yang beralih ke gig economy atau pekerjaan lepas. Meskipun fleksibel, pendapatan dari pekerjaan semacam ini sering tidak menentu dan tunjangan seperti jaminan kesehatan atau pensiun sangat minim.

Bahkan pekerja tetap pun tidak selalu mendapat kepastian jam kerja atau tunjangan yang memadai. Hal ini membuat satu gaji terasa semakin tidak cukup untuk menjamin kestabilan ekonomi keluarga.

Persiapan Pensiun yang Jadi Tanggung Jawab Sendiri

Dulu, banyak perusahaan menyediakan dana pensiun untuk karyawannya. Kini, semakin sedikit yang melakukannya. Artinya, kita harus menyisihkan sebagian pendapatan untuk masa tua nanti. Jika gaji saja sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari, bagaimana bisa menabung untuk pensiun?

Dengan dua penghasilan, tentu ada ruang lebih besar untuk menabung dan berinvestasi. Namun, bagi keluarga yang hanya mengandalkan satu gaji, ini menjadi tantangan yang sangat berat.

Menimbang Kembali Pilihan

Memiliki dua sumber penghasilan kini bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sebuah strategi untuk bertahan. Banyak keluarga yang akhirnya memutuskan untuk sama-sama bekerja demi memenuhi kebutuhan dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

Bagi Bunda yang saat ini menjalani keluarga dengan satu pencari nafkah, penting untuk terus memantau keuangan dan mencari cara untuk menambah pemasukan. Dengan perencanaan yang matang, kita tetap bisa menjaga keluarga tetap harmonis dan sejahtera, apa pun kondisinya.

Reporter: Anisa Wahyuni